Mengapa Pariwisata Sumbar Berbeda ? ( Edisi 31 )

Mengapa pariwisata Sumbar berbeda?

(Edisi 31)

 

Motif kunjungan wisatawan yang datang ke Sumatera Barat menurut survei salah satunya adalah untuk mencicipi kuliner lokal yang khas dan spesifik di seluruh daerah yang ada. Sampai-sampai ada guyonan bahwa kalau bicara kuliner, di Sumatera Barat itu hanya ada dua kategori, enak dan enak sekali. Atau yang agak aneh dan membingungkan, kalau mau menambah berat badan datanglah ke Sumatera Barat, sebuah kalimat yang entah siapa yang mulai mempopulerkannya.

 

Salah satu keunikan kuliner Sumatera Barat adalah makanan campur-campur. Bukan hanya bahan makanan yang memang diaduk dengan sengaja seperti gado-gado, tetapi sering dua atau beberapa jenis dimakan secara bersamaan yang dihidangkan dalam satu piring. Yang paling terkenal itu adalah bubur kampiun, yang mencampurkan bubur beras, bubur pulut, lopis, kolak pisang, kacang padi, yang kemudian diberi toping lelehan gula enau yang menimbulkan efek sejuta rasa saat berada di rongga mulut para penikmat kuliner.

 

Ada lagi hidangan kombinasi goreng pisang, pulut putih dan parutan kelapa, kombinasi lemang dan tape pulut hitam, kombinasi lemang dan durian segar, ampiang dadiah yang terbuat dari fermentasi susu kerbau yang disebut sebagai yoghurt khas Sumatera Barat, cendol dicampur tape ubi, dan masih banyak lagi kombinasi makanan lokal khas lainnya. Semua jenis makanan tersebut disatukan dalam kategori menu lokal yang sengaja dihidangkan dengan dicampur untuk dinikmati para penikmat kuliner.

 

Rasanya untuk cerita makanan yang pasti tulisan saja baru sekedar untuk merangsang imajinasi saja. Untuk benar-benar merasakan ledakan rasa di mulut anda, caranya hanya satu, datang dan nikmati langsung di Sumatera Barat. Saat itu anda baru yakin bahwa pariwisata Sumatera Barat memang berbeda.

 

#wonderfulofindonesia

#tasteofpadang

#edisitigapuluhsati

#wisatasumbarberbeda

#marirencanakankesumbar